PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Written by Mas Tri Posted in:

1. Judul
Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Ruang Materi Jaring-Jaring Kubus Dan Balok Melalui Pendekatan CTL Pada Siswa Kelas IV SD 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal Tahun 2010/2011.
2. Latar Belakang
Alat peraga Matematika merupaka suatu perangkat yang cukup penting karena merupakan salah satu sarana dan komponen utama dalam menganalisis materi. Alat peraga pada dasarnya merupakan salah satu bentuk media (sarana) sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan pembelajaran, terutama dalam pembelajaran matematika sebagai proses. Prof Sutriyono menjelaskan, matematika masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian siswa di sekolah maupun bagi mahasiswa di perguruan tinggi. Hal ini disebabkan pembelajaran matematika masih sekedar memasukkan pengetahuan ke dalam kepala siswa sehingga siswa menganggapnya membosankan. Oleh karena itu, cara pengajaran perlu diubah, yaitu mengonstruksi konsep yang sesuai dengan pengalaman siswa. Pengajar harus mengenal secara pasti corak pemikiran matematika dari siswa. Pembelajaran yang baik perlu menggunakan alat peraga yang sesuai. Berbagai jenis alat peraga bisa dikembangkan dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan alat peraga siswa dituntut dan mendapat peluang untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan mental dan fisiknya melalui kegiatan belajar seperti melakukan pengamatan, klasifikasi, pengukuran, meramalkan, menyusun hipotesis, menarik kesimpulan dan melakukan percobaan, serta ketrampilan proses lainnya.
Di SD 2 Tamanrejo siswa kelas IV dalam proses pembelajaran Matematika sudah menggunakan alat peraga sebagai media yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam belajar Namun tidak semua materi yang diajarkan sudah tersedia alat peraga dalam KIT Matematika, untuk itu guru dan siswa berusaha untuk mengembangkan peraga, salah satunya adalah membuat jaring-jaring kubus dan balok.
Namun disadari bahwa tidak semua siswa dapat memahami proses pembelajaran Matematika tentang jaring-jaring kubus dan balok, hal ini menunjukkan bahwa jaring-jaring kubus dan balok bagi siswa masih dirasa sulit. Oleh sebab itu guru berupaya menggunakan peraga sebagai alat ukur dan proses pembelajaran siswa di dalam memahami bangun ruang kubus dan balok.
Diantara penyebab kesulitan pembelajaran Matematika tentang jaring-jaring kubus dan balok yang dialami oleh siswa SD 2 Tamanrejo siswa kelas IV, antara lain kurang bisa merangkai bidang sehingga tidak membentuk suatu bangun ruang, siswa kurang berlatih, banyak mengeluarkan biaya.
Mengingat pentingnya penggunaan alat peraga dalam setiap pembelajaran Matematika maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Ruang Materi Jaring-Jaring Kubus dan Balok Melalui Pendekatan CTL Pada Siswa Kelas IV SD 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal Tahun 2010/2011”.
3. Permasalahan
Sebagaimana latar belakang tersebut di atas dapat diasumsikan bahwa matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang olah angka, untuk menunjang agar matematika mudah dipahami siswa maka digunakanlah alat peraga, maka manfaat yang dapat diperoleh siswa antara lain dapat meingkatkan motivasi belajar, dapat menyediakan variasi belajar, dapat memberi gambaran struktur yang memudahkan belajar, dapat memberikan contoh yang selektif, dapat merangsang berpikir analisis, dapat memberikan situasi belajar yang tanpa beban atau tekanan.
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa.
Oleh karena itu dalam permasalahan ini dibahas antara lain mengenai :
a. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Ruang Materi Jaring-Jaring Kubus dan Balok ?
b. Apakah pendekatan CTL tersebut mampu untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di kelas IV SD 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal Tahun 2010/2011?
4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
a. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah Mendiskripsikan Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Ruang Materi Jaring-Jaring Kubus dan Balok Melalui Pendekatan CTL Pada Siswa Kelas IV SD 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal Tahun 2010/2011
b. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi dan referensi tambahan bagi guru tentang pentingnya menggunakan alat peraga jaring-jaring bangun ruang dalam pembelajaran matematika.
Adapun manfaat dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
1) Bagi Guru
a) Dapat memperoleh gambaran tentang pelaksanaan pembelajaran Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Ruang Materi Jaring-Jaring Kubus dan Balok Melalui Pendekatan CTL Pada Siswa Kelas IV SD 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal Tahun 2010/2011
b) Dapat memperbaiki kinerja guru dalam pembelajaran Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Ruang Materi Jaring-Jaring Kubus dan Balok Melalui Pendekatan CTL Pada Siswa Kelas IV SD 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal Tahun 2010/20112.
2) Bagi Siswa
a) Dapat memacu siswa dalam belajar agar lebih giat terutama pada Materi Jaring-Jaring Kubus dan Balok Melalui Pendekatan CTL pada Siswa Kelas IV SD 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal Tahun 2010/20112
b) Dapat meningkatkan siswa agar lebih mampu belajar mandiri terutama pada Materi Jaring-Jaring Kubus dan Balok Melalui Pendekatan CTL pada Siswa Kelas IV SD 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal Tahun 2010/20112.
3). Sekolah
a) Dapat memberikan sumbangan perbaikan pembelajaran dan peningkatan prestasi bagi siswa kelas IV SD 2 Tamanrejo melalui pendekatan CTL.
b) Sebagai acuan bagi peneliti lain yang tertarik akan masalah pembelajaran ini sehingga dapat diterapkan atau dikembangkan disekolah lain.
5. Kajian Pustaka
a. Prestasi Belajar Matematika
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2001: 895) prestasi diartikan sebagai yang telah dicapai (telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Menurut Arifin (1991: 3), prestasi berarti hasil usaha. Dalam hubungannya dengan usaha belajar, prestasi berarti hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar pada kurun waktu tertentu. Prestasi belajar siswa mampu memperlihatkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pengalaman dalam bidang ketrampilan, nilai dan sikap.
Dalam beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang telah dicapai oleh seseorang sedang prestasi belajar adalah hasil yang dapat dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar dalam kurun waktu tertentu.
Seorang siswa yang telah melakukan kegiatan belajar matematika, dapat diukur prestasinya setelah melakukan kegiatan belajar tersebut dengan menggunakan suatu alat evaluasi. Jadi prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun waktu tertentu dan diukur dengan menggunakan alat evaluasi (tes).
1) Matematika
Matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang olah angka (bilangan-bilangan) Amran YS Chaniago (2002:386)
2) Kubus
Kubus adalah suatu bangun ruang yang mempunyai 6 bidang sisi kongruen berbentuk bujur sangkar, ada 12 rusuk yang sama panjang dan 8 titik sudut @ 900 . Nur Azman (2004:131)
3) Balok
Balok adalah suatu bangun ruang dengan alas persegipajang, dimana rusuk tegak terhadap alasnya disebut tinggi balok serta mempunyai 12 rusuk, 6 bidang sisi dan 8 titik sudut. Nur Azman (2004:131)
4) Jaring-jaring Bangun Ruang
Jaring-jaring bangun ruang adalah rangkaian bidang yang dapat membentuk suatu bangun ruang. Tidak semua rangkaian bidang membentuk jaring-jaring suatu bangun ruang. Untuk menentukan jaring-jaring dari suatu bangun ruang adalah sebagaiu berikut : mengiris tiap sambungan bidang pada bangun ruang tersebut, tetapi tidak sampai lepas, merentangkan bidang tadi sehingga membentuk rangkaian bidang. Muchtar A. Karim (2005:2.23)
b. Alat Peraga
Berbicara tentang alat peraga sebagai media pendidikan dan pengajaran kita dapat melihatnya dalam pengertian yang luas maupun yang terbatas. Pandangan para ahli (dalam Nochi Nasution,2005:7.3) menjelaskan pengertian alat peraga, sebagai berikut :
1) Gagne menempatkan alat peraga sebagai komponen sumber, dia mendifinisikan alat peraga sebagai,”komponen sumber belajar di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar”.
2) Briggs berpendapat bahwa harus ada sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (pesan kurikuler) supaya terjadi proses belajar. Alat peraga sebagai “wahana fisik yang mengandung materi pelajaran”.
3) Wilbur Achramm nampaknya melihat alat peraga dalam pendidikan sebagai suatu teknik untuk menyampaika pesan. Oleh sebab itu dia mendifinisikan alat peraga, sebagai berikut “alat peraga adalah teknologi pembawa informasi atau pesan pembelajaran”.
4) Yusuf hadi Miarso melihat alat peraga secara makro dalam keseluruhan sistem pendidikan sehingga difinisinya berbunyi “Segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar”.
c. Tujuan Penggunaan Alat Peraga
Nochi Nasution (2005:7.4) menyebutkan tujuan pengguaan alat bantu pengajaran untuk :
1) Memeperjelas informasi..
2) Memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting.
3) Memberi variasi dalam pengajaran.
4) Memperjelas struktur pengajaran.
5) Motivasi belajar..
Pada bagian lain Nochi Nasution (2005:7.4) menjelaskan bahwa alat peraga sebagai alat bantu dalam pembelajaran memiliki fungsi yang jelas, yaitu memperjelas, memudahkan siswa memahami konsep/prinsip atau teori, dan membuat pesan kurikulum yang akan disampaikan kepada siswa menarik, sehingga motivasi belajar siswa meningkat dan proses belajar dapat lebih efektif dan efesien.
d. Pentingnya Alat Peraga Matematika
Penggunaan alat peraga sangat dibutuhklan dalam pengajaran Matematika. Secara umum peranan alat peraga antara lain :
1) Dapat mengaktifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dan antara siswa dan sesamanya dalam kegiatan belajar mengajar.
2) Dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa agar dapat mendorong kegiatan belajar mengajar, sehingga pengalaman belajar yang diperoleh akan lebih bermakna bagi siswa.
3) Dapat membangkitkan keinginan dan minat belajar siswa, sehingga perhatian siswa dapat terpusat pada bahan pengajaran yang diberikan guru.
4) Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar sehingga membuat pelajaran lebih lama ingat.
5) Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan mandiri di kalangan siswa.
Dengan melihat peranan alat peraga, maka manfaat yang dapat diperoleh siswa antara lain dapat meingkatkan motivasi belajar, dapat menyediakan variasi belajar, dapat memberi gambaran struktur yang memudahkan belajar, dapat memberikan contoh yang selektif, dapat merangsang berpikir analisis, dapat memberikan situasi belajar yang tanpa beban atau tekanan. Sedangkan manfaat alat peraga Matematika bagi guru antara lain dapat memberikan pedoman dalam merumuskan tujuan pembelajaran , dapat memberikan sistematika mengajar , dapat memudahkan kendali pengajaran , dapat membantu kecermatan dan ketelitian dalam penyajian , dapat membangkitkan rasa percaya diri dalam mengajar , dapat meningkatkan kualitas pengajaran. Nochi Nasution (2005:7.8)
e. Hakekat Pembelajaran CTL
Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), peAlat Peragaan (Alat Peragaing), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
f. Penerapan Pendekatan CTL Di Kelas
Pembelajaran dengan pendekatan CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, mata pelajarani apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
1) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
2) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
3) Ciptakan masyarakat belajar.
4) Hadirkan Alat Peraga sebagai contoh pembelajaran
5) Lakukan refleksi di akhir pertemuan
6) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
6. Rencana dan Prosedure Penelitian
a. Subjek Penelitian, tempat, waktu, dan lama tindakan.
1) Subjek Penelitian
Subyek penelitian atau siswa yang akan dikenai kegiatan penelitian adalah peserta didik yang sungguh-sungguh telah teridentifikasi mengalami kesulitan memahami jaring-jaring kubus dan balok. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo.
2) Tempat penelitian
Penelitian dilakukan di SD Negeri 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal pada Semester I Tahun Pelajaran 2010/2011
3). Waktu Penelitian
Penelitin dilaksanakan selama 2 bulan efektif yaitu mulai Oktober s.d Nopember 2010
4). Lama Tindakan
Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan Januari, mulai dari siklus I dan siklus II.
Subyek penelitian atau siswa yang akan dikenai kegiatan penelitian adalah peserta didik yang sungguh-sungguh telah teridentifikasi mengalami kesulitan memahami jaring-jaring kubus dan balok. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri 2 Tamanrejo Kecamatan Sukorejo dan rencana tindakan selama 2 bulan.
b. Prosedure dan Langkah-langkah PTK
Penelitian yang peneliti laksanakan menggunakan penelitian tindakan kelas melalui dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tiga kegiatan yaitu :
1). Perencanaan
Meliputi penyampaian materi pelajaran, praktik membaca, latihan soal dan Tes Formatif.
2). Pelaksanaan Tindakan
a). Siklus I meliputi : Pendahuluan, Kegiatan Pokok dan Penutup
b). Siklus II meliputi : Pendahuluan, kegiatan pokok dan Penutup
3). Observasi, Evaluasi dan Refleksi,
dimana perlu adanya pembahasan antara siklus-siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.
7. Jadwal Penelitian
Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses penelitian ini diperkirakan seluruhnya adalah selama 2 bulan.
Dengan rincian sebagai berikut :


1 Perencanaan
2 Pelaksanaan Tindakan
3 Observasi, evaluasi, dan refleksi
8. Biaya Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan biaya sebesar Rp. 930.000
1. Tahap Perencanaan
a. Orientasi Lapangan Rp 50.000
b. Pengajuan Judul Rp 50.000
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
a. Pengembangan Instrumen Rp 75.000
b. Pengumpulan Data Rp 75.000
c. Analisis Data Rp 100.000
d. Pengolahan data Rp 150.000
3. Observasi, evaluasi, dan refleksi
a. Penyusunan Laporan Rp 150.000
b. Revisi / Perbaikan Rp 100.000
c. Penggandaan Rp 180.000
Jumlah Rp 930.000
9. Personal Penelitian
Penelitian ini dilakukan secara mandiri
10. Daftar Pustaka
Agus Rachmat,2004, Konsep dasar IPA IIk, Jakarta : Universitas Terbuka
Amran YS Chaniago,2004, Kamus lengkap bahasa Indonesia, Bandung : Pustaka Setia
BSNP,2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasat Tingkat SD/MI Mapel Matematika.Jakarta
Depdikbud, 1994,Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar, Jakarta:
Engkoswara, 1992, Jurnal pendidikan, Jakarta : Depdikbud
Igak Wardani, 2007, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Universitas Terbuka
Populair Sains Group, 2004, Intisari Metematika dan tehnik Berhitung Bandung : Penabur Ilmu
Nana Syaodih Sukmadinata,2006. Metode penelitian Pendidikan, Jakarta: Rosda.
Nochi Nasution,2006. Pendidikan IPA di SD, Jakarta: Universitas Terbuka
Oemar Hamalik, 2005,Proses belajar mengajar, Jakarta: Bumi Aksara
Sriyono,2004, Sains 5untuk kelas 5 SD, Jakarta : Sunda kelapa Pustaka
Syaiful bahri Djamarah, 2006, Strategi belajar mengajar, Jakarta : Rineka Cipta
Muchtar A.Karim, 2005,Pendidikan Matematika II, Jakarta: Universitas Terbuka

Read more
Read more
Read more

Pengembangan Diri

Written by Mas Tri Posted in:

Pengembangan diri merupakan kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan sesuai dengan keahlinya. yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler.
Dalam rangka memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap siswa dengan mempertimbangkan potensi dan sumber daya yang tersedia di sekolah, maka di SD Negeri 1 Bringinsari Kabupaten Kendal melaksanakan Kegiatan Pengembangan Diri yang dilaksanakan secara rutin, spontan, dan terprogram selama 1 tahun pelajaran.
Kegiatan Pengembangan Diri yang dilaksanakan di SD Negeri 1 Bringinsari meliputi beragam kegiatan ektrakurikuler, budaya kerja, kegiatan pembiasaan, kegiatan keteladanan, Kegiatan Nasionalisme dan Patriotisme, Bimbingan konseling dilaksanakan secara insidental oleh konselor, Bimbingan konseling dilaksanakan secara insidental oleh konselor, Unit Pengembangan Bakat dan Minat dilaksanakan melalui kegiatan ekstra kurikuler , Ketrampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi . Kegiatan Pengembangan Diri yang dilaksanakan di SD Negeri 1 Bringinsari secara terprogram melalui kegiatan ekstra kurikuler meliputi 3 macam kegiatan, yaitu: kegiatan kepramukaan, kegiatan olahraga, kegiatan seni budaya. Kepramukan terdiri siaga dan penggalang, olahraga meliputi sepak takraw dan tenis meja, sedangkan seni/budaya meliputi. Seni Rebana, Marching Band dan Seni Tari.
Kegiatan Pengembangan Diri yang dilaksanakan di SD Negeri 1 Bringinsari Kabupaten Kendal secara rutin, meliputi: Upacara (Senin/Hari Nasional), Senam Pagi setiap hari Jumat, shalat berjamaah. dan Infaq setiap hari Senin dan Jumat Bersih.
Kegiatan Pengembangan Diri yang dilaksanakan secara spontan, antara lain: Takziah, kunjungan terhadap siswa yang sakit, Disamping itu membudayakan saling bersalaman baik siswa kepada guru maupaun antar guru/karyawan.
Siswa kelas VI yang sedang mempersiapkan diri menghadapi UASBN dan ujian sekolah melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada bimbingan belajar dan bimbingan karir. Bimbingan belajar bagi siswa diarahkan agar siswa memiliki pengetahuan tentang cara-cara belajar yang baik serta memiliki kesiapan mental dalam menghadapi ujian akhir. Sedangkan, kegiatan bimbingan karir diarahkan agar siswa memiliki pengetahuan dalam memilih sekolah sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya untuk melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi ketika mereka lulus dari Sekolah Dasar.
Karena pengembangan diri, pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis unggulan lokal dan global bukan merupakan mata pelajaran. Maka Penilaiannya dilakukan secara kualitatif (bukan kuantitatif seperti pada mata pelajaran).

Read more

Muatan Lokal

Written by Mas Tri Posted in:

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjadi bagian dari mata pelajaran lain dan atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satuan tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal.
Seiring dengan dinamika zaman yang terus bergerak menuju arus globalisasi, keberadaan Bahasa Jawa dan Seni Suara Jawa dikhawatirkan akan tergerus oleh nilai-nilai global. Oleh karena itu, SD Negeri 1 Bringinsari menganggap penting adanya upaya pelestarian dan pengembangan Bahasa Jawa dan Seni Suara Jawa, Berdasarkan hal tersebut, maka SD Negeri 1 Bringinsari menempatkan Bahasa Jawa sebagai mata pelajaran Muatan Lokal Jawa Tengah dengan tujuan :
a.Bahasa Jawa adalah mengembangkan kemampuan dan ketrampilan berkomunikasi siswa dengan menggunakan bahasa Jawa
b.Meningkatkan kepekaan dan penghayatan terhadap karya sastra Jawa
c.Memupuk tanggungjawab untuk melestarikan hasil kreasi budaya Jawa sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional.
Sedangkan Seni Suara Jawa mempunyai tujuan sebagai berikut :
a.Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan mengapresiasikan Seni Suara Jawa
b.Memupuk tanggungjawab untuk melestarikan Seni Suara Jawa sebagai salah satu unsur kesenian nasional.
Dengan demikian untuk Bahasa Jawa diajarka pada siswa kelas I s.d. VI dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran per minggu dan Seni Suara Jawa sebagai mata pelajaran Muatan Lokal Kabupaten diajarkan bagi di kelas IV s.d. VI dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran per minggu.
Sedangkan sebagai upaya memberikan dasar bahasa asing bekal untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, SD Negeri 1 Bringinsari metetapkan Bahasa Inggris sebagai muatan lokal sekolah, adapun tujuannya adalah :
a.Mengenalkan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi internasional.
b.Membekali siswa untuk menghadapi tuntutan dalam rangka menyongsong era globalisasi.
Sebagai mata pelajaran Muatan Lokal Sekolah diajarkan bagi siswa kelas IV,V,dan VI dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran per minggu.

Read more

Pembelajaran Konvensional

Written by Mas Tri Posted in:

Ardhana, et al (2004), dari hasil survei terhadap beberapa SD di Buleleng (Bali) dan Kota Malang menemukan bahwa 80% guru menyatakan paling sering menggunakan metode ceramah untuk pembelajaran sains. Sedangkan dari pandangan siswa, 90% menyampaikan bahwa gurunya mengajar dengan cara menerangkan, 58,8% berpendapat dengan cara memberikan PR, dan 43,6% menyampaikan dengan cara meringkas, serta jarang sekali melakukan pengamatan di luar kelas. Terkait dengan temuan ini, kegiatan mengajar yang dilakukan oleh para guru tersebut merupakan aktivitas menyimpan informasi dalam pikiran siswa yang pasif dan dianggap kosong. Siswa hanya menerima informasi verbal dari buku-buku dan guru atau ahli.
Pengemasan belajar dan pembelajaran seperti tersebut di atas dalam beberapa tulisan (Dunlap & Grabinger, 1996; Grabinger, 1996; Goodman & Kuzmic, 1997; Johnson, 2002; Wilson, 1996) diistilahkan sebagai pembelajaran konvensional atau tradisional.
Freire (1999) memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan ber-“gaya bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal. Proses ini lebih jauh akan berimplikasi pada terjadinya hubungan yang bersifat antagonisme di antara guru dan siswa. Guru sebagai subjek yang aktif dan siswa sebagai objek yang pasif dan diperlakukan tidak menjadi bagian dari realita dunia yang diajarkan kepada mereka.
urrowes (2003) menyampaikan bahwa menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu: (1) pembelajaran berpusat pada guru, (2) terjadi passive learning, (3) interaksi di antara siswa kurang, (4) tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan (5) penilaian bersifat sporadis. Menurut Brooks & Brooks (1993), penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar.
Jika dilihat dari tiga jalur modus penyampaian pesan pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan) dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Dalam perkataan lain, guru lebih sering menggunakan strategi atau metode ceramah dan/atau drill dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat. Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya menyampaikan seluruh materi yag ada dalam kurikulum. Penekanan aktivitas belajar lebih banyak pada buku teks dan kemampuan mengungkapkan kembali isi buku teks tersebut. Jadi, pembelajaran konvensional kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities).
Berdasarkan definisi atau ciri-ciri tersebut, penyelenggaraan pembelajaran konvensional merupakan sebuah praktik yang mekanistik dan diredusir menjadi pemberian informasi. Dalam kondisi ini, guru memainkan peran yang sangat penting karena mengajar dianggap memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar (pebelajar). Dengan kata lain, penyelenggaraan pembelajaran dianggap sebagai model transmisi pengetahuan (Tishman, et al., 1993). Dalam model ini, peran guru adalah menyiapkan dan mentransmisi pengetahuan atau informasi kepada siswa. Sedangkan peran para siswa adalah menerima, menyimpan, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang sesuai dengan informasi yang diberikan.
Pembelajaran yang didasarkan pada asumsi-asumsi menurut model transmisi memandang bahwa pengetahuan terdiri dari potongan-potongan fakta (O’Malley & Pierce, 1996). Siswa mempelajari pengetahuan atau keterampilan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Diasumsikan bahwa penguasaan terhadap pengetahuan atau keterampilan yang kompleks dapat dicapai secara langsung apabila siswa sebelumnya telah mempelajari bagian-bagian pengetahuan tersebut (Oliver & Hannafin, 2001). Dalam kondisi ini para siswa harus secara cepat dan seksama melalui aktivitas-aktivitas mendengarkan, membaca, dan mencatat untuk memperoleh informasi. Terkadang para siswa perlu juga melakukan aktivitas laboratorium dan/atau menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan informasi tersebut. Di sisi lain, guru berperan memproses pengetahuan dan/atau keterampilan yang diperlukan para siswa. Terhadap pemrosesan pengetahuan atau keterampilan tersebut, guru terkadang perlu menambahkan penguatan berupa gambar, simbol, tabel, atau jenis yang lain sebagai sumber belajar. Sumber belajar tersebut sebagian besar sifatnya tekstual (bukan kontekstual).
Sumber belajar dalam pendekatan pembelajaran konvensional lebih banyak berupa informasi verbal yang diperoleh dari buku dan penjelasan guru atau ahli. Sumber-sumber inilah yang sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Oleh karena itu, sumber belajar (informasi) harus tersusun secara sistematis mengikuti urutan dari komponen-komponen yang kecil ke keseluruhan (Herman, et al., 1992; Oliver & Hannafin, 2001) dan biasanya bersifat deduktif. Oleh sebab itu, pembelajaran diartikulasikan menjadi tujuan-tujuan berupa prilaku yang diskrit. Apa yang terjadi selama proses belajar dan pembelajaran jauh dari upaya-upaya untuk terjadinya pemahaman. Siswa dituntut untuk menunjukkan kemampuan menghafal dan menguasai potongan-potongan informasi sebagai prasyarat untuk mempelajari keterampilan-keterampilan yang lebih kompleks. Artinya bahwa siswa yang telah mempelajari pengetahuan dasar tertentu, maka siswa diharapakan akan dapat menggabungkan sub-sub pengethauan tersebut untuk menampilkan prilaku (hasil) belajar yang lebih kompleks. Berdasarkan pandangan ini, pembelajaran konvensional merupakan aktivitas belajar yang bersifat linier (O’Malley & Pierce, 1996) dan deterministik (Burton, et al., 1996).
Pembelajaran yang bersifat linier didesain dengan kerangka kerja berupa serangkaian aktivitas belajar dalam suatu tata urutan yang sistematis dan hasil belajar (berupa prilaku) yang dapat ditentukan secara pasti (deterministik) serta teramati. Beberapa prinsip yang melatar belakangi desian pembelajaran linier adalah: (1) mengidentifikasi dan merumuskan tujuan pembelajaran, (2) hasil belajar yang diharapkan harus terukur serta sesuai dengan standar validitas dan reliabilitas, dan (3) desain berorientasi pada perubahan tingkah laku pebelajar.
Berdasarkan prinsip desain pembelajaran tersebut di atas, maka prosedur pembelajaran konvensional yang diimplementasikan dalam penelitian ini disusun mengikuti urutan-urutan sebagai berikut: (1) mengidentifikasi indikator keberhasilan, yang selanjutnya dituangkan menjadi tujuan pembelajaran, (2) merancang dan menyusun isi bahan ajar konvensional (teks ajar dan LKS), (3) merancang dan menyusun instrumen tes untuk mengukur hasil belajar (pemahaman konsep dan ketertampilan berpikir kritis), (4) merancang dan menyusun skenario pembelajaran, (5) mengimplementasikan program pembelajaran, dan (6) melaksanakan evaluasi. Implementasi program pembelajaran terdiri dari langkah-langkah, yaitu (a) apersepsi, (b) penjelasan konsep, dengan metode ceramah dan/atau demonstrasi, (c) latihan terbimbing, (d) memberikan balikan (feed back). Keseluruhan pelaksanaan langkah-langkah pembelajaran ini menggunakan latar (seting) belajar diskusi kelompok-kelompok kooperatif.

Milik dan karya: I Wayan Sukra Warpala

Read more

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman
Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan,
kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.
Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.
Penerapan CTL dalam pembelajaran
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.

Sumber materi Bintek KTSP-2008

Read more

Introduction

GAMES

PRIMBON RAMALAN JODOH